home

Tuesday, December 13, 2011

Tidak Boleh Ada Batasan Kasta

Large_erik-aas

Berita Terkait

Bagaimana kondisi Axis ketika pertama kali Anda masuk?

Saya memimpin Axis sejak 2007. Saat itu perusahaan ini belum punya apapun, dan baru mulai membangun jaringan. Pada 2008, akhirnya kami berhasil me-launching di tiga kota yakni Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Kini, kami beroperasi di lebih dari 400 kota di Indonesia.

Suasana di industri telekomunikasi saat itu masih penuh dengan ketidakpastian dengan jumlah perusahaan sebanyak 10 operator telekomunikasi yang mencakup 18 merek di pasaran. Tidak ada seorang pun yang tahu pasti akan menjadi seperti apa industri ini ke depannya dan bagaimana tahapannya.

Seperti yang sudah saya perkirakan ketika pertama kali melihat peta industri ini di Indonesia, terjadilah perang tarif yang sangat kompetitif pada 2009 hingga akhirnya mengerucutkan peta persaingan, yakni ada operator baru dan tiga operator besar.

Perang tarif pada akhirnya tidak hanya membuat masyarakat bisa menikmati layanan telekomunikasi dengan harga jauh lebih murah, namun juga memberi kejelasan peta kompetisi di industri. Axis kini berada di posisi keempat, sekaligus membuktikan diri sebagai pemain baru yang serius.

Pernahkah menghadapi masa-masa sulit?

Masa yang paling sulit bagi saya terjadi ketika pertama kali meluncurkan Axis pada 2008, di tengah ketatnya kompetisi dari banyaknya merek di pasaran, di mana satu operator memiliki lebih dari satu merek hanya untuk layanan prabayar. Apalagi jangkauan layanan Axis masih sangat terbatas.

Jujur, saat itu tidak ada orang yang butuh Axis. Akan tetapi , dalam kurun waktu 4 tahun  Axis berhasil meraih posisi sekarang dengan kerja keras tim dan dukungan banyak pihak.

Bagi saya, memberikan layanan terbaik kepada pelanggan yang sudah memakai Axis jauh lebih penting dibandingkan dengan mengejar sebanyak-banyaknya pengguna/pelanggan baru.

Saat ini, jaringan dan jangkauan layanan Axis memang belum ada di seluruh wilayah Indonesia, namun di mana kami ada, pelanggan bisa merasa puas dengan kualitas layanan yang diberikan, tidak ada promosi menyesatkan dan keluhan yang diabaikan.

Kami mengelola akun di sosial media, khususnya Facebook dan Twitter dengan target melayani setiap keluhan dan masukan yang disampaikan di sana, tidak harus melakukan panggilan telepon ke costumer service.

Layanan yang baik inilah yang menjadi modal rekomendasi menggunakan Axis dari pelanggan ke teman mereka dan akhirnya membuat kami berada di posisi sekarang. Rekomendasi dari teman juga membuat pengguna baru lebih bertahan lama sebagai pelanggan.

Bagaimana cara Anda memotivasi karyawan?

Bagi saya, orang akan mau bekerja lebih maksimal di lingkungan yang membuat mereka nyaman. Tidak boleh ada batasan kasta atau jenjang. Saya mendesain Axis menjadi kantor dengan lingkungan sangat terbuka, orang bebas bicara, dan struktur organisasi simpel.

Kebijakan ini mungkin tidak normal di Indonesia, akan tetapi semua dimulai dari konsep open office.

Kantor Axis tidak memiliki lantai khusus bagi direksi. Setiap direktur ada di lantai yang sama dengan anak buahnya masing-masing, sehingga proses komunikasi dan pengambilan keputusan di setiap divisi bisa dilakukan dengan cepat dan efisien.

Hal tersebut juga mengeliminasi adanya politik kantor. Tanpa urusan politik kantor, orang bisa bekerja dengan lebih fokus, setiap rencana perusahaan banyak yang orang tahu dan terlibat untuk membantu agar bisa selesai lebih cepat atau lebih baik dari target.

Direktur di Axis juga tidak memiliki ruang khusus, apalagi sebuah kursi khusus, termasuk saya. Mereka duduk dan bekerja di kursi, komputer, dan akses internet berkualitas sama dengan yang digunakan pegawai lainnya.

Saya bisa bekerja di lantai yang berbeda. Jika kami sedang fokus untuk meluncurkan program pemasaran, misalnya, saya bisa berkantor di lantai pemasaran selama 1 atau 2 pekan untuk merasakan dan ikut membantu jika dibutuhkan.

Bagaimana Anda mempersepsikan pelanggan maupun pesaing?

Tidak ada nomor ekstensi telepon di kantor, semua orang punya ponsel dengan nomor Axis untuk komunikasi di kantor dan sehari-hari. Hal itu juga berguna agar perusahaan merasakan apa yang dirasakan pelanggan.

Jika ada masalah seperti penurunan kualitas layanan, pasti saya dan tim manajemen langsung tahu karena komunikasi kami juga sama-sama terganggu.

Terkait kompetor, kami berupaya melakukan hal berbeda. Ketika operator lain perang tarif dengan promosi namun banyak syarat dan ketentuan berlaku yang sering dikeluhkan pengguna, kami berikan promosi dengan jujur dan bisa dibuktikan.

Kami tidak ingin menjatuhkan operator lain, kompetitor harus dihormati. Axis masuk dengan hal yang berbeda dan ternyata bisa diterima juga oleh masyarakat.

Bagaimana Anda memperlakukan karyawan yang menentang kebijakan perusahaan?

Saya menerima kritik dengan terbuka. Jika ada orang yang ingin mengganjal, ya silahkan utarakan dan mari cari solusi bersama, yang pada akhirnya dapat diterima semua pihak dan semakin memajukan perusahaan.

Bagi saya perusahaan harus terbuka. Pemegang saham Axis adalah dua perusahaan yang sangat besar dan mereka suka dengan caea berjalannya perusahaan ini.

Pernahkan Anda mengambil keputusan yang kemudian disesali?

Saya tidak memiliki keputusan yang akhirnya disesali. Namun, pastinya ada beberapa keputusan yang buruk yang pernah saya ambil. Setiap pemimpin pasti pernah mengambil keputusan buruk, namun pemimpin yang baik lebih banyak mengambil keputusan baik. Dan  semoga saya berada di posisi ini.

Saya menanamkan kepada setiap karyawan bahwa evaluasi dari setiap kegiatan atau aksi perusahaan dilakukan bukan untuk menyesali, namun belajar dan mencari apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik di masa mendatang.

Adakah keputusan Anda yang dianggap paling monumental?

Ada banyak pengalaman besar selama saya berada di sini. Sebagai pemimpin hal yang paling berkesan saat melihat tim yang telah saya bangun bekerja dengan sangat baik, bersemangat, berani beda, dan bekerja keras.

Mungkin salah satu keputusan yang terbaru yang cukup penting adalah saat kami meluncurkan layanan data. Kini Axis memiliki tiga layanan data yang berbeda, pengguna tinggal memilih sesuai dengan kebutuhannya.

Jika terjadi situasi krisis, langkah prioritas apa yang akan Anda lakukan?

Saya termasuk orang yang tidak percaya jika ada krisis langsung di industri telekomunikasi karena semua orang butuh komunikasi. Apalagi di Indonesia masyarakatnya suka ngobrol.

Jika terjadi krisis finansial sehingga masyarakat mengurangi anggaran komunikasi mereka dan Axis terkena dampak, ada dua prioritas yang saya lakukan.

Pertama, sebiasa mungkin mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan yang ada sehingga mereka tetap loyal menggunakan Axis. Kedua, tetap bertahan dengan tim manajemen yang ada di Axis, jangan sampai melakukan pemutusan hubungan kerja atau hal buruk lainnya. Kondisi pasti akan membaik, jika saat krisis kebijakan yang dilakukan ‘kejam’, orang akan selalu ingat, begitu pula sebaliknya.

Adakah rencana aksi korporasi dalam 1-2 tahun mendatang?

Keinginan untuk menjadi nomor tiga tentu ada. Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah melakukan bisnis dengan baik, berinvestasi dengan baik, dan membuat pelanggan bahagia dengan layanan kami. Untuk tahun depan layanan data akan semakin ditingkatkan, karena orang Indonesia suka berkomunikasi, termasuk ngobrol di telepon.

Kami saat ini sedang menunggu tambahan kanal 3G dari regulator. Ditargetkan bisa selesai pada akhir tahun atau awal tahun depan. Begitu kanal kedua diberikan, Axis akan langsung meluncurkan akses internet berkecepatan 42 mega byte per second (Mbps). Saat ini dengan satu kanal yang dimiliki, Axis baru bisa memberikan kecepatan akses 21 Mbps.

Ada juga beberapa kerja sama membangun base transceiver station (BTS) untuk meningkatkan dan memperkuat layanan.

Rencana lain adalah mendapatkan lisensi untuk layanan sambungan langsung internasional (SLI) karena kami percaya Indonesia butuh lebih banyak operator pemegang lisensi SLI, ideal lima operator sekarang baru ada tiga operator.

Bertambahnya operator akan menambah sehat iklim kompetisi sehingga harga layanan bisa lebih murah bagi masyarakat. SLI itu kan tidak hanya soal menelepon ke luar negeri. Akses data saat ini masih dominan tersambung ke luar negeri, mulai dari e-mail hingga sosial media seperti Facebook dan Twitter.

Apakah Anda sudah mempersiapkan masa pensiun?

Wah, saya tidak pernah memikirkan soal masa depan ke mana setelah dari Axis, apalagi pensiun. Bagi saya yang paling penting adalah bersikap loyal mengeluarkan yang terbaik dari diri bagi perusahaan, selama 4 tahun terakhir ini, ya Axis.

Usia saya juga baru 45 tahun.  Fokus saya saat ini adalah membangun culture perusahaan agar siapa pun CEO  (chief executive officer) atau direktur nantinya, Axis sudah memiliki visi dan misi sehingga perusahaan bisa berjalan dengan baik, dan rasanya perusahaan ini sudah menemukan ritmenya.

Bagaimana Anda menyeimbangkan urusan keluarga dan pekerjaan?

Sudah sekitar 11 tahun saya berada di Asia, pertama kali pindah dari Eropa ke Asia cukup berat, namun tidak ada penyesalan.

Saya sangat senang berada di Indonesia, di sini orang memiliki hidup yang seimbang antara pekerjaan, keluarga, dan hiburan. Keluarga sudah saya boyong sejak pertama kali pindah, saat itu istri sedang hamil besar putra pertama kami. Kini, saya tinggal di apartemen dengan istri dan dua anak kecil berusia 4 tahun dan 2 tahun.

Indonesia tempat yang sangat menyenangkan, jangan hanya lihat Jakarta saja. Banyak kota kecil yang sangat menyenangkan dari sisi budaya, pemandangan, dan masyarakatnya. Sejauh ini paling berkesan Yogyakarta, Semarang, dan Palembang.

Siapakah tokoh idola Anda?

Banyak orang-orang terbaik di industri telekomunikasi yang saya kagumi, dari Indonesia maupun luar negeri. Saat ini, tipe pemimpin yang baik adalah David Cameron, Perdana Menteri Inggris. Ketika dia mengatasi krisis di London, Inggris pada Juli lalu, bagi saya itulah kualitas seorang pemimpin.

Biodata
Nama                                                    : Erik Aas
Tempat, tanggal alhir                         : Hamar, Oslo, 17 September 1966

Karir
Oktober 2007 - sekarang                  : Presiden Direktur dan CEO PT Axis Telekom Indonesia (Axis)
November 2004 - Oktober 2007      : CEO Grameenphone (operator telekomunikasi Bangladesh)
2002-2004                                            : Chief Marketing Officer DiGi Telecommunications
  (operator telekomunikasi Malaysia)

Pendidikan
2001                                                     : Meraih gelar Master of Business Administration dari
IMD di Switzerland
1991                                                     : Meraih gelar Master of Science dari NTNU di
Trondheim, Norwegia
Doa Sebagai Pondasi Impian EntrepreneurViews :113 TimesPDFCetakE-mail
Senin, 07 November 2011 14:14
ciputra2








Di malam hari yang gelap, manusia sesuai ritme alam diharapkan untuk berhenti bekerja. Tapi tidak demikian dengan saya. Malam hari selain dimanfaatkan untuk beristirahat juga bisa digunakan untuk membangun impian. Mungkin Anda bertanya bagaimana bisa membangun impian di malam hari saat kita sudah begitu lelah dengan pekerjaan di pagi dan siang hari hingga sorenya. 

Yang berbeda di malam hari yaitu bagaimana kita membangun impian kita secara spiritual, secara batin, bukan secara fisik atau kasat mata.Kita bisa membangun impian ini dengan mengucapkan doa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Sering saya masih terjaga di malam hari hingga pukul 11 malam sementara tubuh sudah lelah bekerja di siang harinya. Di saat-saat sunyi nan khidmat seperti inilah saya bisa mengucapkan doa dengan lebih khusyuk. Saya bersyukur dengan seluruh karunia yang diberikan-Nya dari awal kehidupan saya hingga saat ini berusia lanjut. 

Manusia mungkin lebih sering lupa untuk berdoa saat ia berada di puncak keberhasilan. Ia lebih sering ingat Tuhan saat kehidupannya terisi kesedihan, tragedi, dan semacamnya. Tapi dengan semakin bertambahnya usia, kita makin menyadari bahwa doa yang tak pernah putus sepanjang usia itu seperti pondasi bagi bangunan impian kita dengan kerja keras kita sebagai semen dan batubatanya. Pondasi doa memang tidak nampak tetapi pengaruhnya pada keberhasilan kita sungguh tak terhingga.

Berdoa sepanjang hari terutama sebelum tidur dan selepas bangun pagi saya jadikan sebagai bagian rutinitas wajib. Kebiasaan ini saya sebarkan pada anggota-anggota keluarga saya, seperti anak-anak, cucu-cucu, dan sebagainya. 

Satu hal yang saya yakini tentang doa adalah saat kita melakukan sebuah tindakan yang dilandasi dengan berkat dari Tuhan, bisa dipastikan hasilnya tidak hanya akan menguntungkan diri kita pribadi tetapi juga berguna bagi masyarakat luas. 
Kisah Kursi dan SofaPDFCetakE-mail
Kamis, 27 Oktober 2011 09:13
IMG_135_-_CopySaya ingin berbagi cerita ringan mengenai pengalaman saya saat menghadiri sebuah dialog dengan anak-anak sekolah. Siang itu saya diundang menjadi pembicara dalam sebuah acara pendidikan. Saat hendak naik panggung, saya berhenti begitu melihat kursi. Kursi atau tepatnya alas duduk yg disediakan berbentuk sofa yang empuk dan nyaman. Saya menolak. Saya mau duduk jika sofa itu diganti kursi biasa.

Saya minta kursi sekolah saja yang lebih keras dengan sandaran yang tegak. Rasanya lebih nyaman. Mungkin Anda bertanya, "Apanya yang nyaman?" Panitia pun kebingungan mencari kursi yang sesuai permintaan saya. Mereka tidak menduga saya keberatan duduk di sofa. Akhirnya permintaan saya terkabul. Sebuah kursi biasa yang terbuat dari besi lipat dinaikkan ke panggung mengantikan sofa empuk tersebut. Kursi satu ini lebih ringan dan sandarannya rata sehingga punggung saya tidak sakit dan tulang belakang saya tidak membungkuk.

Saya ingin ajarkan bagaimana prinsip fungsionalitas yang mendorong produktivitas itu lebih penting daripada kenyamanan yang memanjakan. Saya pilih kursi yang keras juga untuk menyampaikan pesan bahwa para pemuda bangsa harus mau bersakit-sakit dahulu pada awalnya. Saya katakan sebagai pemuda, Anda semua jika mau sukses harus hindari sofa empuk karena bagi saya sofa itu lambang kemewahan.

Saat Anda masih muda sudah suka duduk-duduk di sofa, akan dengan mudah terlena, segan beranjak, atau malah tertidur pulas. Bagi saya, sofa ialah kemewahan yang bisa sekali2 dinikmati tapi tidak bisa membuat kita menjadi pribadi entrepreneur yang tegak dan tangguh.
Indonesia Bisa Lebih Besar dari Amerika!Views :411 TimesPDFCetakE-mail
Selasa, 18 Oktober 2011 17:16
ciputraSaya masih ingat saat hadir di Regional Entrepreneurship Summit di Bali , 25 Juli 2011 yang lalu. Saya masuk ke dalam ruangan pertemuan dengan duduk di sebuah kursi roda. Banyak sekali yang tiba-tiba ingin meminta berfoto bersama. Suasana yang sebelumnya terlihat tenang menjadi agak riuh rendah.

Saya senang sekali telah hadir di acara tersebut, meski kini harus ekstra memperhatikan kesehatan saya usahakan untuk tetap hadir di acara-acara penting seperti itu. Saya ingin berbagi dan semangat berbagi itu menjadi motor penggerak saya selama ini.

Selama kehadiran saya di sana, saya temui banyak wajah-wajah muda yang begitu haus motivasi. Saya tahu mereka bisa, mereka punya potensi besar untuk majukan bangsa dengan menjadi entrepreneur hebat, lebih dari Ciputra sekarang. Tapi sebagai anak muda mereka tampak masih harus menempa mental dan semangat, karena memulai sebuah perjalanan sebagai entrepreneur tidaklah mudah. Generasi sepuh, seperti saya, bertugas untuk membesarkan hati mereka, meneguhkan kepercayaan diri bahwa mereka mampu.

Indonesia, seperti saya sampaikan di hadapan hadirin saat itu, adalah bangsa yang berpotensi besar. Rasanya tidaklah terlalu muluk-muluk jika saya katakan bahwa suatu saat nanti, ekonomi Indonesia akan menjadi 120 kali lebih besar dari Amerika Serikat. Nampak mustahil sekarang, tapi hanya yang Tuhan yang tahu. Apalah yang tidak mungkin jika manusia berusaha dan Tuhan memberkatinya?

Sejak lima tahun lalu, saya sudah memulai upaya untuk menggairahkan semangat menjadi entrepreneur di Indonesia. Saya didukung oleh para staf kepercayaan berusaha menyebarkan semangat ini, dari kalangan pengajar perguruan tinggi, guru-guru sekolah dasar maupun menengah, tenaga kerja migran, bahkan hingga para narapidana. Mengapa dosen dan guru? Karena dengan mengajarkan entrepreneurship pada mereka, efeknya akan lebih berlipat ganda. Mengapa TKI? Karena mereka adalah kelompok masyarakat yang memiliki keberanian dan  Mengapa narapidana? Karena saya yakin bahwa semua tindak kriminal itu pangkalnya adalah kemiskinan, baik dalam aspek materi maupun jiwa. Semuanya saling berkaitan dan tak mungkin untuk dipisah-pisahkan.

Saat semua elemen bangsa menyadari pentingnya entrepreneurship dan bahu membahu mewujudkan bangsa ini agar menjadi bangsa entrepreneur, tujuan untuk menjadi negara adidaya lebih dari Amerika bukan sebuah impian kaum utopis. Saya percaya, bagaimana dengan Anda?

Sunday, December 4, 2011

The Cute And The Hot - Jawapos 28 N0vember 2011


Banyak Lelaki berpikir harus ganteng dulu supaya bisa dapat pacar. Tetapi saya justru banyak menemukan lelaki keren mentereng yang kesulitan mendapatkan pasangan. Kejadian seperti ini sama persis seperti yang dialami anak-anak muda, yang baru merintis usaha yang habis-habisan fokus pada produk kebanggaannya.
Seorang remaja misalnya, komplain kepada adik-kakaknya yang kesemuanya perempuan. Sebagai satu-satunya anak lelaki ia merasa ada yang kurang beres. Ia lalu bertanya kepada adiknya, “apakah saya kurang keren?” Adiknya berkata dengan bahasa gaul “kakak cute kok!” Cute berarti keren, tidak jelek, si adik menyimpulkannya setelah bergunjing dengan “geng”-nya di sekolah, tetapi mengapa kakak “cute” tidak dapat cewek?

HOT: Action
Mudah saja dijawab, ternyata cewek-cewek itu bukan mencari yang cute, melainkan yang hot. Cowok-cowok yang keren sering kali tidak hot, manja, menunggu dilamar, tinggi hati, dan hanya sibuk berdandan. Sekarang Anda jadi mengerti bukan, mengapa banyak perempuan cantik yang tidak jatuh ke pelukan laki-laki cute? Bahkan Anda sering menghujat, “lha kok cowoknya parah banget? Nggak selevel?” Masalahnya, merekalah yang berani mendatangi, bolak-balik tak kenal lelah.
Itulah reality show. Sekali lagi bukan yang cute, melainkan  yang hot-lah yang dicari. Ini sama persis dalam dinamika bisnis di era Cracking Zone. Pasar bukan mengejar produk yang cute, melainkan yang hot. Barang-barang yang cute tidak beredar, sedangkan yang hot, meski kurang-kurang sedikit, bahkan maaf, kadang juga yang kurang bagus, melenggang lancar di pasar karena ia digerakkan, pemikiknya aktif mendatangi pasar.
Saat menulis kolom ini saya pun sedang berada di Banda Aceh, menghadiri Festival Kopi Aceh tak jauh dari Masjid Raya kesohor itu. Di antara tenda-tenda peserta, saya mendatangi UMKM binaan Rumah Perubahan secara on the spot. Dengan jelas kami bisa membedakan mana saja UMKM yang akan maju dan mana yang akan diam di tempat: Mereka yang diam itulah yang tendanya bagus dan asyik sendiri. Sedangkan yang hot, aktif mendatangi. Ini sama persis dengan UMKM yang dibawa pemda-pemda ikut pameran ke luar negeri.
UMKM yang hot sudah siap dengan aneka brosur dan kartu nama, sedangkan yang cute sibuk menyiapkan display produk dan stand. Kita tahulah bagaimana kerja birokrasi yang masih banyak digerakkan prinsip “sekedar menghabiskan anggaran.” Dengan prinsip itu, pemerintah sudah pasti tidak mendapatkan lokasi pameran yang “hot”. Jadi letaknya tidak pada posisi yang strategis, menyempil di dalam-dalam kotak yang tersudut. Pada posisi seperti ini, Departemen Perdagangan lebih senang menghabiskan uangnya untuk membuat desain stand yang ”cute”, ditambah sejumlah kegiatan Public Relations yang ditopang wartawan dari dalam negeri.
Wartawan yang tidak kritis “tertipu” habis karena hanya menyajikan berita betapa “cute”-nya stand  pameran Indonesia. Seakan-akan yang cute itulah yang sukses. Statistik yang diberikan pemerintah juga amat impresif. Tapi tanyakanlah kepada pelaku-pelaku UMKM yang “cute” tadi, apakah betul mereka mendapatkan order?
Beberapa tahun yang lalu ada anak muda yang ikut pameran pariwisata yang amat terkenal di Berlin. Sewaktu saya kunjungi saya tertegun karena ia tak berada di dalam area stand pemerintah Indonesia. Ia berkeliling sambil membawa sebuah hand luggage  beroda dan bersama temannya membagi-bagikan brosur pada para pengunjung yang keluar dari area standpemerintah Malaysia, Turki, Thailand, atau Israel. Maklum itulah empat negara yang gencar berpromosi dan paling banyak dikunjungi calon-calon “buyer” dan travel agents.
Sementara pelaku-pelaku pariwisata Indonesia mengeluh pada pemerintah karena pamerannya gagal, anak muda itu justru mendapatkan “pacar”, yaitu order dari mancanegara.
Jadi, cracking zone ini memang penuh jebakan batman, kita mengira segala yang cute akan digemari, nyatanya tidak demikian. Sama juga dengan wirausahawan-wirausahawan muda yang hanya sibuk dengan pengembangan produk tok.Produk yang cute tak akan otomatis bergulir. Malaysia saja alamnya tak se-“cute” Indonesia bisa mendapatkan turis lebih banyak. Tentu bukan karena prinsip “the cute”. In real life, the hot is the darling!
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia