home

Tuesday, November 15, 2011


Tribute to Steve JobsPDFPrint
Friday, 07 October 2011
Tak seperti biasanya, pada tahun 2009, BBC Two menurunkan seorang pengusaha yang “sudah jadi” dalam tayangan Dragon’s Den, yang biasanya diisi pengusaha pendatang-pendatang baru.


Dia adalah penemu (inventor) yang sangat dikagumi dunia. Biasa muncul dengan sweter hitam lengan panjang, yang ditarik setengah lengan ke atas dan bercelana jeans. Begitu muncul, pembawa acara memulai dengan kalimat menyentak: “Mencari uang memang tak mudah.”Lalu muncullah Steve Jobs.Ia memperkenalkan produk yang katanya akan melejit pada 2010.“Introducing a truly magical & revolutionary product. We call it the iPad,” ujarnya penuh percaya diri.

Banyak pertanyaan muncul di kepala saya.“Bukankah Dragon’s Den ditujukan pada inventor pemula yang butuh uang kecil? Mengapa produsen BBC Two menurunkan Jobs? Sekadar membuat tinggi rating? Atau apa?” Tidak ada jawaban yang jelas. Tetapi seperti yang saya duga, “jualan” Jobs mereka patahkan.

Semua angel investor (calon pemodal) menolak membiayai produk baru Jobs. Tak seorang pun di antara mereka mau mendanai produk yang kemudian mampu mengubah wajah dunia, sekaligus menaikkan value para pemegang saham Apple. Kalau Jobs orang Asia, dia pasti sudah kehilangan muka.

Yang menarik perhatian saya, para angel investor itu mengatakan demikian: “Fantastic.There is no problem with the product… the only problem, you are very difficult person to work with….”.

Mereka mempersoalkan pribadi Jobs yang dikenal industri sebagai orang yang sulit untuk diajak bekerja sama. Dari mana mereka mendapatkan kesan itu? Apakah orang-orang hebat, penemu, dan navigator masa depan selalu pribadi yang sulit?

Pirates of Silicon Valley 

Selain ramai dibicarakan pasar karena inovasinya, persepsi publik terhadap Steve Jobs ternyata juga dibentuk oleh film Pirates of Silicon Valley, yang diangkat dari buku Fire in the Valley: The Making of the Personal Computer (Paul Freiberger & Michael Swaine).Seperti Mark Zuckerberg (founder Facebook) yang dikiaskan begitu buruk perangainya dalam film The Social Network,Jobs diceritakan dalam film itu sebagai pribadi yang sulit.

Benar dia seorang revolusioner. Pada 1975,dia menyatakan kepada partnernya, Steve Wozniak, bahwa mereka berdualah The True Revolutionaries,bukan mahasiswa yang pada 1970-an gelisah menaikkan revolusi. Jobs dan Wozniak merevolusi dunia melalui komputer Macintosh dan berhadapan dengan sosok yang tampil lebih soft,Bill Gates yang membangun industri software dan membangun platform lewat IBM-PC.

Keduanya bersaing ketat. Namun, ada dua masalah yang membentuk persepsi tentang karakter Jobs. Pertama adalah kisah affair-nya dengan kekasihnya yang ditinggalkan begitu saja sampai memiliki anak biologis di luar pernikahan. Kejadian personal yang dilakukan Jobs pada 1975 itu digambarkan dalam film Pirates of Silicon Valley sebagai pribadi yang sulit.

Dan kedua, adalah pemecatan terhadap dirinya yang dilakukan CEO John Sculley dari Apple Computer pada 1985. Sejak itulah, label sebagai pribadi yang sulit terbentuk luas dan Jobs hidup di luar perusahaan yang ia dirikan sendiri. Pemarah,mudah mencampakkan orang, tak bisa diajak kerja sama adalah gambaran yang ditampilkan film tentang Jobs.

Namun bila Anda menyaksikan film ini, dan juga menonton film The Social Network, maka Anda mungkin bisa lebih berempati pada inovator-inovator muda yang sedang kelebihan hormon dan sangat ambisius untuk mengubah wajah dunia melalui jalur kewirausahaan.

Mereka adalah manusia yang sama seperti kita, ingin sukses tetapi bertarung dengan waktu, menciptakan masa depan dengan merangkai rantai-rantai nilai baru yang belum dikenal sebelumnya. Wajar saja bila mereka bertabrakan menghadapi kepentingan- kepentingan bisnis dan nilai-nilai, perilaku yang disorot publik,dan terkaman-terkaman pemburu kesempatan.

Tetapi waktu berjalan,mereka pun menemukan kematangankematangan baru dengan “hormon” yang mudah terkendali. Setelah tergelincir keluar dari Apple, Jobs mendirikan NeXT yang memfokuskan bisnisnya pada pendidikan tinggi. Namun pada 1996, Jobs berhasil kembali ke perusahaan yang dia dirikan dan menjadi CEO.

Sejak itulah, dunia menunggu Apple melompat ke kurva kedua, yang kelak dia buktikan melalui iPod,iPhone, dan iPad yang kembali mengubah wajah dunia.Nama besar Jobs kembali melambung ke udara sampai dia mengumumkan resign dan mengalami gangguan kesehatan serius.

DNA Perubahan 

Bagi saya, kepergian Steve Jobs bukanlah sekadar kepergian seorang usahawan biasa. Jobs adalah orang yang pantas dikagumi orang-orang muda melalui karya-karyanya yang telah merevolusi dunia. Dia membentuk dunia baru tanpa kenal lelah dan menginspirasi lahirnya industri-industri baru.

Di berbagai media sosial, beredar kalimat-kalimat indah yang dikutip orang-orang muda. Salah satunya: “the only way to do great work is to love what you do…”.Namun bagi saya,kalimat yang paling mengesankan justru adalah kalimat yang dia ucapkan saat ia berefleksi di masa-masa sulit.

Saat dipecat dari Apple,dia mengatakan itulah keputusan terbaik yang terjadi pada dirinya. Dia mengatakan: “The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life”.

Selamat beristirahat Steve Jobs, kita beruntung hidup dalam era yang penuh perubahan, dan menyaksikan karya besar teknologi yang menandai hidup baru yang lebih terbebaskan dari batasan-batasan revolusi industri. Kata orang bijak,“ Sukses bukanlah seberapa tinggi gunung yang bisa Anda taklukkan, melainkan bila Anda jatuh, seberapa cepat Anda bisa naik kembali.”  RHENALD KASALI Ketua Program MM UI 
Visi Misi - Jawapos 10 Oktober 2011


“Mendaratkan manusia ke bulan dan membawa mereka kembali ke bumi dengan selamat pada akhir dekade ini. “ Tebaklah siapa yang membuat pernyataan ini?

Benar! Itulah vision statement yang diajukan John F. Kennedy sebelum ia terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Dan Andapun tahu apa yang ia lakukan selama masa jabatannya. Dalam beberapa kesempatan ia berulang-ulang menyebutkan alasannya. “Kita memilih terbang ke bulan, bukan mendaki gunung karena itu sulit dan kita tidak ingin membiarkan Uni Soviet melihat bumi Amerika dari atas langit kita,” ujarnya.

Visi dan Misi kini telah menjadi jargon sehari-hari masyarakat, dan selalu muncul saat Pilkada sampai Pilkate (Pemilihan Ketua RT). Dan anehnya, tak satupun visi para pemimpin diingat masyarakatnya. Saya curiga, jangan-jangan para pemimpin sudah lupa dengan vision statement yang mereka buat sendiri karena terbukti hasil yang mereka capai jauh dari yang mereka janjikan dan mereka melupakan janji-janjinya. Lagi pula mengapa Visi itu cuma diucapkan selama pemilihan?

Jelas dan Singkat
Mungkin juga semua terlupa karena apa yang dibuat adalah pernyataan yang klise, asal-asalan, dan bahkan terlalu kompleks. Disebut klise karena Visinya terlalu umum, jauh sekali, mengambang, dan sulit dipegang.

Perhatikanlah janji Kennedy di atas. Ia mengungkapkan Visinya begitu spesifik sehingga mudah diingat dan membawa semua staf fokus ke satu tujuan yang riil, jelas dan menembus batas keragu-raguan. Sama seperti yang diucapkan almarhum Steve Jobs:” An Apple at every desk” (Satu Apple pada setiap meja).

Lantas bandingkanlah dengan vision-vision statement berikut ini. Presiden SBY:”Terwujudnya Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur” Di lain berita saya membaca visinya sebagai berikut:”Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan.” Saya tidak tahu persis mengapa keduanya berbeda.

Namun secara umum dapat dikatakan Visi para pemimpin masih belum spesifik dan sulit dibedakan. Lihatlah apa yang menjadi Visi Ibu Megawati: ”Gotong royong membangun kembali Indonesia raya yang berdaulat, bermartabat, adil, dan  makmur.” Atau pasangan JK-Wiranto:” Indonesia yang adil, mandiri, dan bermartabat.” Susah ya membedakan Visi mereka! Jangan-jangan para pemimpin benar-benar belum paham arti pentingnya mengelola masa depan secara strategis melalui Visi -  Misi.

Di dalam bisnis, Visi – Misi adalah hal yang biasa. Kalau usaha Anda sekedar UKM, Anda belum memerlukan visi-misi. Sasaran utama Anda adalah sekedar survive. Seingat saya, perusahaan saya yang mati sebelum berkembang adalah perusahaan yang dipersiapkan sungguh-sungguh dengan visi-misi yang sangat ideal. Namun namanya juga usaha kecil yang masih baru dimulai. Ia masih sangat lemah dan belum jelas betul mau kemana. Pernyataan Visi – Misi itu dibantu konsultan. Ini namanya dokter diobati dokter. Usaha saya yang maju adalah justru yang dibangun dengan kerja keras tanpa pernyataan tertulis tentang Visi - Misi. Sekarang, setelah berkembang barulah saya memikirkannya. Maklum saja, karyawan mulai banyak, dan para eksekutif perlu diarahkan pada kesatuan bertindak.
Saya lalu membuka-buka berbagai visi Misi yang telah dilakukan tokoh-tokoh besar. Uniknya, semakin besar, vision statement mereka semakin simpel.

Mudah Diingat
Sekarang lihatlah apa yang dinyatakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Mereka jelas mampu membedaan Visi dengan Misi. Disney misalnya cukup menyatakan visinya:“ To make everybody happy.” Canadian Cancer Society:” menciptakan dunia dengan tidak ada satupun warga Canada yang takut terhadap kanker.” Bill Gates: A computer on every desk”, sedangkan perusahaan-perusahaan  (Microsoft) mengatakan :” Keajaiban software dengan kekuatan internet dengan piranti lintas dunia.” Atau Nokia:” Connecting people and very human technology.” Demikian pula Google: “ To develop a perfect search engine.”

Rumus-rumus Visi yang simple mudah diingat dan menggerakkan manusia. Andapun bisa membuat karyawan-karyawan Anda mudah menjalankan Visi Anda dengan kalimat-kalimat pernyataan Visi yang simpel. Saya punya banyak contoh vision statement perusahaan-perusahaan lokal, namun mohon maaf tidak muat saya tulis di kolom ini karena panjangnya minta ampun. Kalimat-kalimatnya tumpang-tindih, kelihatan pemimpin-pemimpin kita tidak artikulatif dan terperangkap menjelaskan usaha-usahanya yang banyak maunya.

Harap diingat vision statement yang baik mampu menjelaskan Visi pemimpin yang energizing, mudah diingat, realistik, dan membedakan Anda dari yang lain. Visi tidak bisa dipisahkan dari misi, tata nilai dan perilaku, serta action plan. Kalau setiap pemimpin memahami apa yang ia inginkan dan bisa menjelaskannya dengan baik, niscaya warganya akan mendukung dan rakyatnya sejahtera.
 

Rhenald kasali
Guru Besar Universitas Indonesia


Lari Kencang Menteri DahlanPDFPrint
Thursday, 03 November 2011
Meski kehilangan Fadel Muhammad,Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II hasil reshuffle mendapatkan Dahlan Iskan. Dahlan, seperti Fadel, adalah seorang “doer”. Larinya kencang, matanya jeli,dan yang lebih penting lagi, ia tahu mana yang jadi prioritas yang harus segera diputuskan.

Ibarat nasabah yang diangkat menjadi bankir atau bankir yang diangkat menjadi juru runding debitur yang tengah bermasalah,Dahlan Iskan tahu apa yang dirasakan masing-masing BUMN.Doing from the other side of the table! Kini Dahlan harus berunding dengan “bank” yang membinanya, praktis jurus- jurus yang dipegang “bank”ada di tangannya. Dari direksi BUMN yang biasa diberi arahan oleh kementerian yang basisnya adalah birokrasi, kini ia berada di sisi birokrasi. Yang harus ia benahi adalah kantor kementeriannya agar “in line” dan “senafas”dengan BUMN yang dituntut berkinerja.

Nafas Berbeda 

Sejak Kementerian BUMN didirikan,dan aset-aset BUMN dipisahkan dari Direktorat Pembinaan BUMN – Departemen Keuangan,sebenarnya sudah ada banyak kemajuan. Menteri Tanri Abeng,profesional, yang datang bersama-sama CEO terkemuka Indonesia (Robby Djohan dan Abdul Gani) melakukan gebrakan riil. Laksamana Sukardi,yang juga mantan CEO meneruskan membawa lebih banyak lagi para praktisi ke dalam BUMN.

Di era Sofyan Djalil,selain ditanamkan prinsip-prinsip good governance, ia juga agresif membawa masuk CEO profesional ke dalam BUMN. Namun, seperti memindahkan ikan samudera ke dalam “fresh water”yang biasa dihuni ikan-ikan air tawar, tidak semua ikan-ikan hiu itu survive. Sebagian mabuk sempoyongan. Hiu yang biasa mengarungi samudera luas melawan predator- predator raksasa kini harus hidup bersama-sama ikanikan konsumsi yang larinya tak sekencang mereka.

Berlari kencang, terlalu banyak dinding yang harus diterjang.Melihat agresivitasnya, pemilik kolam yang tak biasa melaut sering dibuat kecut. Alih-alih membuat ikan-ikan konsumsi berlari lebih cepat, ikan-ikan samuderalah yang direm, dijadikan ikan kolam. Beberapa CEO yang lari kencang itu akhirnya tak bisa bertahan lama.

Beruntung,masih ada orang-orang hebat yang mampu mengembangkan “jurus- jurus” yang lebih adaptif. Hotbonar Sinaga (Jamsostek), Ignasius Jonan (KAI), Agus Martowardojo & Zulkifli Zaini (Bank Mandiri), Richard Jose Lino (Pelindo II),Pasoroan Herman Harianja (Pelindo IV),Gatot M Suwondo ( BNI), Sofyan Basir (BRI),dan tentu saja Dahlan Iskan yang sukses memimpin PLN adalah sebagian contoh CEO yang lari kencang di BUMN.

Di samping mereka tentu juga beberapa direksi yang lahir dari dalam BUMN yang sama kencang larinya. Dari mereka itulah kita belajar ada dua masalah yang harus segera diselesaikan. Pertama, bagaimana menyelaraskan “nafas” antara kantor kementerian dan BUMN itu sendiri. Kedua,bagaimana membina agar BUMN yang belum dikelola dengan baik bisa lari lebih kencang lagi. Untuk masalah yang pertama, bolanya memang ada di pemerintah.

Kalau BUMN mau dibuat maju, kantor kementerian dululah yang harus direformasi menjadi holding BUMN yang dikelola secara lebih profesional dari BUMN yang dibinanya. Kantor kementerian ini nafasnya tidak boleh sama dengan kementerian-kementerian lainnya yang terperangkap oleh,maaf, “kultur kucing”.

“Kucing” adalah metafora yang saya gunakan dalam buku Cracking Zoneuntuk menggambarkan kantor-kantor yang bergerak lambat atau setengah lambat seperti petugas di kantor- kantor kelurahan atau kecamatan. Toiletnya kumuh dan tempat parkirnya semrawut menandakan tak ada pemimpin yang peduli pada pelayanan. Seragam-seragam petugasnya lusuh, ikat pinggang satpam kedodoran pertanda kurang diberi makan. Resepsionis bekerja malas-malasan pertanda tak ada supervisi.

Jam 5 sore sebagian besar pegawai sudah gelisah ingin pulang, tak ada leadership. Politisi dibiarkan menekan dan banyak dapat bisnis, pertanda ambisi perorangan dan rasa takut. Budaya korporat “kucing” tentu tidak hanya ada di kantor- kantor kementerian secara umum, tetapi juga masih banyak ditemui di BUMN yang kata para profesional terkesan “malas”.

Kucing itu betah di rumah, biasa diberi makan, dan kalau tidak diberi makan, ia akan mengorek-ngorek dapurnya sendiri. Dia setia, tapi lamban sekali. Sejak para profesional bergabung di Kantor Kementerian BUMN,harus diakui larinya sedikit lebih kencang, tetapi belum cukup.Kantor ini memang belum didesain agar insaninsannya bisa lari kencang karena nafasnya adalah birokrasi dan kepegawaiannya PNS dengan struktur insentif yang tidak bisa membuatnya bergerak lebih dinamis.

Crackership 

Menyadari “bangunan” rumahnya yang belum didesain untuk lari kencang, Menteri Dahlan Iskan memilih cara kedua, yaitu membenahi BUMN agar tidak “berbudaya kucing” lagi. Namun, saya kira ia butuh amunisi yang lebih besar,yaitu struktur kantor kementerian yang lebih korporatif.Menpan dan Setneg harus bisa membantu agar Kantor Kementerian BUMN tidak memiliki desain bangunan yang sama dengan Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Dalam Negeri.

Kementerian-kementerian yang lain adalah cost-center, sedangkan Kementerian BUMN adalah income–generator. Di Singapura saja,BUMN bahkan menyumbang 60% dari GDPnya. Jadi,kalau ingin BUMN sehat dan larinya kencang, kementeriannya harus dibuat lebih otonom dengan kultur korporatif,yaitu kultur cheetah yang siap bertarung, insentifnya harus bagus, gajinya harus “above market price”dengan insentif yang menarik.

Ada kebebasan untuk bergerak lebih leluasa, dan pegawai-pegawainya tak memerlukan evaluasi serta rekrutmen seperti metode yang dipakai di dunia PNS. Menteri Dahlan Iskan menyentak. Ia berlari sangat kencang. Di surat kabar kita melihat ia sedang menyetir mobil sendiri dan di sebelahnya duduk Wamen BUMN Mahmuddin Yasin. Saya dengar mereka berdua langsung bekerja sesaat setelah dilantik.

Di mobil pun berkoordinasi, sedangkan menteri-menteri yang lain masih berjarak dengan wamennya yang masih bingung harus berbuat apa. Para CEO BUMN yang saya temui mengaku menterinya lari kencang. Ini pertanda alignment mulai bekerja. Namun, tuntutannya jelas.BUMN harus fokus, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk rapat dengan kantor kementerian, dan utamakan profesionalitas.

Hanya dalam hitungan hari, Kantor Kementerian BUMN sudah memutuskan tindakantindakan strategis. Berapa besar dana PSO untuk membantu BUMN yang perlu suntikan modal sudah keluar, dan kemarin ia memutuskan untuk menyerahkan aset-aset tidak produktif yang jumlahnya sangat besar di BUMN agar dikelola PT PPA. Aset-aset tidak produktif di BUMN memang banyak sekali sehingga return on assets-nya sangat rendah.

Common sense kita mengatakan, punya aset dan tanah yang luas kalau tak punya cash flow yang cukup, aset-aset itu justru menjadi beban. Bagi saya,Dahlan Iskan adalah sosok lain yang dirindukan bangsa ini. A doer is much more needed rather than just a lazy thinker.Seperti yang saya katakan pekan lalu, Indonesia bukanlah kereta api otomatis yang cukup dikemudikan masinis yang hanya bekerja dengan telunjuk jarinya.

Indonesia adalah sebuah kapal besar yang perlu digerakkan pemimpin efektif. Jadi bergeraklah para CEO BUMN, ubah budaya kucing menjadi cheetah, dan jadilah crackeryang gesit.Bergeraklah Kantor Kementerian PAN,beri lebih banyak ruang agar Kementerian BUMN bisa lebih hebat dari Khazanah (Malaysia) atau Temasek (Singapura). Selamat bekerja Menteri Dahlan Iskan, semoga Tuhan terus memberi kesehatan dan kebijaksanaan untuk reformasi birokrasi. 

RHENALD KASALI 
Ketua Program MM UI          

Surfice DogPDFPrint
Thursday, 10 November 2011
Di akhir tahun ini, perhatian para eksekutif banyak tertuju pada seekor anjing golden retriever yang dirawat pelatihnya, Judy Fridono.

Ia menjadi perhatian bukan karena harganya atau karena orang berebut ingin memilikinya, melainkan karena ceritanya.Para eksekutif menaruh perhatian setelah mengetahui kehidupan hewan peliharaan ini mampu mengubah cara berpikir manusia dalam menghadapi masa-masa sulit.

Saya sengaja memilih topik tentang anjing penuh cinta yang kaya cerita ini untuk mengantarkan Anda menghadapi tahun 2012 yang jauh lebih menantang dibandingkan dengan situasi yang Anda hadapi di tahun ini. Seperti kata pepatah––kita tak mungkin mendapat hasil yang lebih baik dengan cara yang sama berulang-ulang––, kita pun perlu mempersiapkan tim yang jauh lebih tangguh, yang siap berubah. Beginilah ceritanya.

Service Dog yang Gagal

Anjing kecil yang lahir 25 Januari 2008 ini diberi nama Ricochet atau sebut saja Ricky. Meski bernama laki-laki, ia sebenarnya anjing betina. Sejak lahir, Ricky sudah mengikuti program yang akan membawanya menjadi service dog, yaitu anjing penuntun orang cacat, khususnya kaum tunanetra.

Dari videonya yang saya pelajari, Ricky sudah diprogram sejak matanya belum terbuka. Ia dilatih mengikuti inderanya. Badannya bergerak mengikuti stimulus yang diberikan pelatih dan setiap kali menjalankan tugas, ia diberi usapan kasih sayang yang membuat hidupnya penuh kehangatan. Pet yang cerdas ini dengan cepat menangkap segala latihan yang diberikan kepadanya. Mengambil payung, membuka pintu,membunyikan bel, menyalakan lampu rumah, membuka kulkas, mengambil makanan,menuntun majikannya melakukan perjalanan rutin, dan seterusnya.

Pokoknya ia hewan yang cerdik dan siap dilepas. Masalahnya, di usianya yang ke-1,5 tahun, Ricky diketahui memiliki kegemaran yang membahayakan tunanetra, yaitu suka mengejar burung. Tak peduli tugas apa pun yang sedang dijalankan,ia pasti berlari mengejar kumpulan burung yang ada di dekatnya, lalu menghalaunya. Bayangkan apa jadinya kalau ia sedang bertugas mengantar majikan menyeberang jalan, tiba-tiba ada seekor burung di jalan raya yang sedang ramai. Tentu berbahaya.

Menurut Judy Fridono, keadaan itu memaksanya untuk mengeluarkan Ricky dari programnya.Dengan berat hati ia mulai menghentikan latihan dan bersiap-siap melepas Ricky dan melatih anjing lain yang baru lahir. Namun menjelang pelepasan ia berpikir kembali. “Mengapa harus fokus pada kelemahannya? Bukankah kita semua makhluk hidup memiliki kelemahan?”

Fokus pada Kekuatan

Bagi Anda yang pernah terlibat dalam program transformasi, pasti masih ingat pesan yang sering saya sampaikan, jangan berfokus pada kekurangan atau kelemahan pada tim Anda.Itu pula yang diyakini pelatih Ricky. Daripada berfokus pada kelemahan anjingnya, ia pun berfokus pada apa yang bisa dilakukan dan menjadi kekuatan Ricky. Kekuatan itu pasti ada dan tugas setiap coach adalah menemukan elemen-elemen kekuatan itu.

Saya tak tahu persis apa yang menjadi kekuatan Anda karena sebagai atasan kita hanya menyiapkan Anda–– membuat program untuk Anda––sesuai dengan kebutuhan kita, kebutuhan organisasi. Kita melatih seseorang untuk kebutuhan kita, bukan untuk kebutuhan mereka. Bahkan sepanjang kita melakukan pekerjaan rutin sering kali kita tidak berpikir tentang kekuatan-kekuatan itu. Kita hanya terpaku pada job description, yaitu deskripsi tugas dari job yang kita dapatkan saat rekrutmen.

Sekali seseorang berada di sana––sepanjang ia tak membuat ulah––, ia akan terkunci di situ sekian tahun, lalu ia dipindahkan ke tempat lain sesuai dengan keperluan organisasi. Kita jarang sekali menaruh pada kekuatan-kekuatan personal, selain kekuatan-kekuatan massal yang kita dapatkan dari berbagai alat ukur. Lalu para eksekutif terbiasa mengembangkan program bukan berdasarkan kekuatan yang dapat dikontribusikan anak buahnya,melainkan pada kebutuhan organisasi. Hasilnya tentu bisa diduga, ada sebagian orang yang tidak bisa mengikutinya.

Apalah jadinya kalau Albert Einstein dipaksa ikut kursus menyanyi oleh orang tuanya atau bila Picasso diwajibkan ikut program fisika? Kembali ke program yang dicanangkan untuk Ricky,saat kesedihan datang, Judy Fridono justru menemukan satu kekuatan yang tidak pernah ia eksplorasi, yaitu kemampuan melakukan keseimbangan di atas papan selancar. Ia menemukannya saat Ricky dilatih di atas sebuah kolam kecil. Ia dengan lincah melakukan counter balance. Maka,menurut pelatihnya, “Rather than focus on what she couldn’t do,I focused on what she could do, which was surfing.” Judy fokus di sana dan menjadikan Ricky surfing dog,yaitu anjing yang melakukan surfing di atas gelombang ombak di bibir pantai. Ternyata ia memiliki kehebatan dan keseimbangan yang luar biasa.

Kabar itu segera menyebar ke berbagai penjuru. Dalam hitungan bulan permintaan sudah datang dan seorang anak yang mengalami cedera tak bisa berjalan memintanya. Ia minta diajak tandem berselancar dengan Ricky. Permintaan dikabulkan, mereka bertandem sungguhan, bahkan event itu digunakan untuk melakukan fundraising. Mereka berhasil menangguk donasi di atas USD10.000 plus terapi selama tiga tahun.

Video ini saya putar berkali- kali di hadapan para peserta program transformasi dan mereka semua mengatakan ini adalah video terindah yang pernah mereka lihat, yaitu video yang menggugah mereka untuk berubah. Berfokuslah pada kekuatan, maka Anda akan mendapatkan kehebatan.Selamat mempersiapkan tahun yang lebih menantang.

RHENALD KASALI 
Ketua Program MM UI 

Perhiasan Terindah

Monday, February 21st, 2011
oleh : Gede Prama

Meminjam cerita Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian memaksa agar putrinya menunjuk lelaki yang menghamilinya. Di tengah kekalutan, remaja ini kemudian menunjuk orang tua bijaksana di pinggir hutan. Dan marahlah warga desa, kemudian semuanya memaki. Di tengah amukan dan cacian warga desa, orang tua bijaksana ini hanya berucap tenang, “Baiklah!”
Berbulan-bulan perempuan hamil ini dirawat dengan baik. Tanpa keluhan, tanpa keributan. Merasa dirinya diperlakukan sangat baik, ibu muda ini dihinggapi rasa bersalah mendalam kepada orang tua bijaksana tadi. Kemudian ia mengaku ke orang desa bahwa bukan orang tua bijaksana itu yang menghamilinya, melainkan sejumlah lelaki tidak bertanggung jawab. Maka kembalilah warga desa ke pinggir hutan sambil minta maaf. Lagi-lagi orang tua bijaksana ini berucap pelan, “Baiklah.” Di mata kepintaran, orang tua ini masuk ke dalam kotak kebodohan, tetapi di mata makhluk tercerahkan orang tua ini sungguh mengagumkan.
Bila boleh jujur, keseharian manusia di mana-mana penuh kemarahan. Di Amerikat Serikat daftar kemarahan dengan bahasa sarkastis semakin panjang. Di negeri ini, banyak sekali hal yang bisa membakar api kemarahan. Terlebih menjelang pemilihan presiden, tuduh-menuduh dengan judul bohong berseliweran.
Sesungguhya tidak ada yang berniat marah. Bila digali lebih dalam, manusia mewarisi bibit kemarahan dari orang tua, sekolah, lingkungan. Bibit ini kemudian disirami dengan menonton televisi yang berisi perkelahian, radio yang memberitakan kebencian, media cetak yang laris justru dengan berita kriminalitas, pemimpin yang miskin keteladanan. Sehingga tanpa perbaikan serius, manusia akan terus dibakar kemarahan.
Berbeda dari logika sebagian ilmu kedokteran Barat yang membuang organ tubuh bermasalah, meditasi mengajarkan untuk mengawasi kemarahan. Tatkala sakit kepala, tidak mungkin seseorang membuang kepalanya, melainkan merawat kepalanya. Hal serupa terjadi dengan kemarahan, membuang kemarahan serupa dengan membuang malam dan hanya mau siang.
Ada beberapa pendekatan yang tersedia dalam hal ini. Memandang secara mendalam adalah sebuah pendekatan. Sejujurnya kemarahan terjadi bukan karena godaan orang, melainkan lebih banyak karena manusia kebanyakan serupa jerami yang sedang terbakar (baca: iri, dengki, sakit hati dan lain-lain). Godaan yang datang dari luar mirip angin yang bertiup.
Karena itulah, lebih disarankan untuk mengawasi bibit kemarahan yang ada di dalam. Tolehlah ke dalam ketika kemarahan datang, cermati jerami terbakar yang datang dari pikiran negatif seperti iri dan tidak sabar, tarik napas pelan-pelan, rasakan segarnya udara yang masuk melalui hidung. Sebenarnya ada rahasia kesegaran, ketenangan, kebeningan di balik ketekunan menyatu dengan napas. Sebagaimana kita tahu, masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang, satu-satunya uang tunai kehidupan adalah saat ini. Maka, dalam bahasa Inggris masa kini disebutthe present (hadiah). Indah, sejuk, lembut, itulah hadiah buat mereka yang rajin terhubung dengan kekinian melalui memperhatikan napas.
Di samping memperhatikan napas, bibit kemarahan juga bisa diawasi dengan meditasi jalan. Terutama dengan melihat hakikat semua fenomena (termasuk kemarahan) yang muncul lenyap sebagaimana langkah kaki. Membadankan dalam-dalam bahwa semuanya muncul lenyap bisa menjadi awal terbukanya pintu kesabaran. Sebagai tambahan, mengerti dengan penuh belas kasih bahwa orang yang menyakiti sesungguhnya sedang menderita, adalah pendekatan lain. Ia yang bisa memandang seperti ini, mengalami transformasi di dalam. Dari mau melawan menjadi mau menolong.
Dengan demikian, menyejukkan kemarahan dapat dilakukan dengan kesabaran, terutama karena kemarahan membuat bumi penuh api. Setelah tersejukan terlihat terang, kita semua sama yakni mau bahagia. Lebih mudah menjadikan bumi ini tanah suci dengan melihat kesamaan-kesamaan dibanding bertempur tentang perbedaan.
Dan akhirnya, ketika seorang ayah ditanya putranya apakah perhiasan yang paling indah, dengan lembut ia menjawab: “Kesabaran adalah perhiasan yang terindah.” Terutama karena kesabaran menjadikan bumi ini tanah suci. Dalam bahasa seorang guru, senapan hanya bisa melenyapkan sejumlah musuh. Namun kesabaran bisa melenyapkan semua musuh. Inilah ciri manusia yang sudah mengenakan perhiasan terindah kehidupan. Tidak saja musuhnya lenyap, tetapi semua tempat menjadi tanah suci.
Penulis buku Pencerahan Dalam Perjalanan dan Simfoni di Dalam Diri.
Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg

Leave a Reply

 
 
 
Security Code:

 


Memetik Manfaat APEC
Selasa, 15 November 2011 | 9:04
Presiden AS Barack Obama dan istri Michelle Obama menyambut Presiden RRT Hu Jintao dan istrinya Liu Yongqing menjelang acara makan malam dalam forum pertemuan KTT Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Honolulu, Hawaii, AS, Sabtu (12/11) atau Minggu (13/11) WIB. Pertemuan yang mengambil tema “21 Economies for 21st Century” ini rencananya akan memperdalam integrasi ekonomi kawasan guna mengatasi hambatan perdagangan dan investasi. Foto: Investor Daily/AFP Photo/Jim WatsonPresiden AS Barack Obama dan istri Michelle Obama menyambut Presiden RRT Hu Jintao dan istrinya Liu Yongqing menjelang acara makan malam dalam forum pertemuan KTT Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Honolulu, Hawaii, AS, Sabtu (12/11) atau Minggu (13/11) WIB. Pertemuan yang mengambil tema “21 Economies for 21st Century” ini rencananya akan memperdalam integrasi ekonomi kawasan guna mengatasi hambatan perdagangan dan investasi. Foto: Investor Daily/AFP Photo/Jim Watson

Konferensi Tingkat Tinggi forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Honolulu, 8- 14 November 2011, berlangsung di tengah turbulensi yang melanda zona euro. Itulah sebabnya, para kepala negara justru menyerukan 21 negara anggota APEC untuk membantu solusi mengatasi krisis Eropa. Mereka juga meminta seluruh negara untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi domestic guna mengimbangi perlambatan global.

Isu liberalisasi perdagangan yang semestinya menjadi tema utama APEC justru tenggelam. Bahkan dalam komunike dan pernyataan bersama para pemimpin APEC, yang menonjol justru upaya untuk mempercepat liberalisasi produk-produk ramah lingkungan sebagai upaya untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak.

Mereka sepakat memangkas tarif produk-produk hijau dan berteknologi bersih, sekaligus menciptakan lapangan kerja. Dalam beberapa tahun ke depan bakal ada investasi belasan triliun dolar AS di kawasan Asia Pasifik untuk produk-produk yang ramah lingkungan. 

Sebagai forum kerja sama ekonomi, APEC memang tidak pernah menelurkan sesuatu yang spektakuler dalam setiap KTT. Forum ini seperti sekadar wadah bagi negara anggota untuk senantiasa memegang komitmen yang dihasilkan dari Inisiatif Bogor. Dalam deklarasi APEC di Bogor pada KTT 1994, kawasan ini sepakat menjalankan liberalisasi pada 2010 untuk kelompok negara maju dan tahun 2020 untuk kelompok negara berkembang.

Kita tentu ingat pernyataan populer mantan Presiden Soeharto tentang APEC bahwa Indonesia mau tidak mau, suka tidak suka, harus ikut dalam arus perdagangan bebas. Bila kita berkaca pada kondisi terkini, Indonesia sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) intra-Asean, Asean dengan Tiongkok, serta berikutnya Asean dengan Australia dan Selandia Baru. 

Khusus FTA dengan Tiongkok yang mulai diimplementasikan pada 2010, banyak kalangan mulai khawatir. Sebab, defisit perdagangan Indonesia dengan RRT kian melebar. Impor kita dari RRT didominasi produk-produk manufaktur yang lambat laun bakal menggilas produk serupa manufaktur kita. Sedangkan mayoritas ekspor produk Indonesia masih berbasis sumber daya alam dan bahan mentah yang kurang memberikan nilai tambah.

FTA di lingkup yang lebih kecil ini semestinya menjadi pelajaran bagi liberalisasi dalam skala lebih luas, yakni APEC. Sebagai salah satu Negara penggagas dan ikut aktif dalam forum APEC, Indonesia hendaknya bisa memetik manfaat dari liberalisasi perdagangan dan investasi ini.

Terlebih lagi poros pertumbuhan ekonomi dunia kini bergeser dari Amerika Serikat dan Eropa ke Asia Pasifik. Kawasan pertumbuhan baru ini dimotori oleh Tiongkok, India, dan Indonesia. Sumber pertumbuhan dan permintaan global juga bergeser ke emerging market yang didominasi negara-negara Asia pasifik.

Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan India dan Tiongkok, termasuk pertumbuhan ekonomi negeri sendiri. Demikian pula kita harus bisa memetik manfaat dari kekuatan ekonomi 21 negara APEC. Sebab, ke-21 negara itu memiliki kontribusi terhadap perekonomian global sebesar 57% (US$ 19,2 triliun), total penduduk 3 miliar, serta nilai perdagangannya mencakup 47% total perdagangan global.

Dari sisi ekspor, APEC juga kian menjadi kawasan penting bagi Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, pangsa pasar ekspor RI ke Asean plus Tiongkok dan India meningkat dari 23% menjadi 38%, sedangkan pangsa ekspor ke Eropa dan AS turun dari 28% menjadi 19%.

Demikian pula untuk penanaman modal asing (PMA), saat ini 78% PMA di Indonesia berasal dari Asean, Tiongkok, Jepang, dan Korea dibanding tahun 2005 yang baru 36%. Sedangkan PMA asal Eropa dan AS turun dari 60% menjadi 6% pada periode yang sama. 

Namun, Indonesia harus cerdik dalam merespons liberalisasi perdagangan dan investasi ini. Artinya, sebagai negara berpenduduk besar dengan kekayaan SDA berlimpah, jumlah kelas menengah yang melonjak, serta komposisi penduduk usia produktif tinggi, kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi negara anggota APEC lain. Indonesia harus mengamankan pasar domestik yang selama ini menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 60-70%.

Dalam konteks itu, Indonesia harus banyak berbenah dan mengatasi kelemahan-kelemahan internal. Yang paling utama adalah mengatasi buruknya infrastruktur yang tercermin pada peringkat daya saing infrastruktur kita yang berada di urutan 82 dari 139 negara. Peringkat kemudahan berbisnis (Doing Business) dan Indeks Pembangunan Manusia (MDG) kita juga memburuk.

Tanpa pembenahan pada aspek-aspek fundamental tersebut, jangan harap kita bisa memetik manfaat liberalisasi APEC secara optimal. Jangan sampai Indonesia justru menjadi korban dan ajang pesta pora bagi negara-negara lain.